Produktif Tanpa Ribet! Ada Puluhan Judul Kolaborasi Buku Peternakan Bareng Penerbit Lakeisha Group, Investasi Cuma Rp 225K

Produktivitas dosen di era pendidikan tinggi saat ini tidak lagi hanya diukur dari aktivitas mengajar dan penelitian, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam pengembangan literatur keilmuan. Buku ajar dan buku referensi menjadi salah satu indikator penting dalam penguatan tridarma perguruan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, Program Buku Kolaborasi Peternakan Tahun 2026 resmi dibuka dan mengajak para dosen peternakan di seluruh Indonesia untuk berpartisipasi menulis buku secara kolaboratif.

Program ini dirancang untuk menjawab dua persoalan utama yang kerap dihadapi dosen, yakni keterbatasan waktu dan tingginya biaya penerbitan buku individual. Melalui pendekatan kolaboratif, dosen tetap dapat produktif menulis tanpa harus mengerjakan satu buku penuh secara mandiri.

Program Buku Kolaborasi Peternakan 2026 diselenggarakan Penerbit Lakeisha bersama EWRC Indonesia (Eko Wiratno Research and Consulting) dan terbuka bagi dosen dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.

“Kami ingin membangun budaya menulis dosen yang realistis, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi pengembangan ilmu peternakan,” ujar Eko Wiratno dari EWRC Indonesia dalam keterangan resminya.

Puluhan Judul Buku Peternakan Disiapkan

Berbeda dengan program penulisan buku konvensional, program ini telah menyiapkan puluhan judul buku strategis yang mencerminkan spektrum keilmuan peternakan secara komprehensif. Judul-judul tersebut dirancang selaras dengan kurikulum OBE, kebutuhan buku ajar prodi, serta isu-isu aktual dalam pembangunan peternakan nasional.

Adapun judul buku yang dibuka dalam Program Buku Kolaborasi Peternakan 2026 meliputi:

Produksi Ternak Unggas; Produksi Ternak Non-Ruminansia; Teknologi Pakan dan Formulasi Ransum; Hijauan Pakan Ternak; Sistem Usaha Peternakan; Manajemen Kesehatan Ternak; Teknologi Hasil Ternak; Teknologi Pengolahan Susu; Teknologi Daging dan Produk Olahan; Keamanan Pangan Asal Hewan (ASUH); Limbah dan Lingkungan Peternakan; Bioteknologi Peternakan; Manajemen Agribisnis Peternakan; Kewirausahaan Peternakan; Penyuluhan dan Komunikasi Peternakan; Analisis Kelayakan Usaha Peternakan; Sosiologi Pedesaan; Kebijakan Pembangunan Peternakan; Peternakan Organik; Nutrigenomik Ternak; Produksi Ternak Berkelanjutan; Smart Farming Peternakan; Precision Livestock Farming; Mikotoksin dan Keamanan Pakan; Manajemen Stres dan Kesejahteraan Hewan; Metodologi Penelitian Peternakan; serta Rancangan Percobaan Peternakan.

EWRC Indonesia menegaskan bahwa pemilihan judul ini dilakukan secara selektif dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

“Kami tidak sekadar mengejar jumlah judul. Fokus kami adalah buku yang benar-benar dipakai mahasiswa, dosen, dan praktisi,” tegas Eko Wiratno dari EWRC Indonesia.

Skema Kolaborasi yang Ramah Dosen

Program Buku Kolaborasi Peternakan 2026 menerapkan skema satu bab satu penulis. Dalam satu judul buku hanya terdapat 8 bab, sehingga proses penulisan dapat berlangsung lebih cepat dan terkontrol.

Setiap penulis hanya diwajibkan menyusun naskah sepanjang 15–25 halaman, termasuk daftar pustaka dan profil penulis. Skema ini dinilai ideal karena cukup untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara mendalam, namun tetap realistis dikerjakan di tengah kesibukan dosen.

“Kami memahami dosen memiliki banyak tanggung jawab. Karena itu, skema ini dibuat ringan tanpa mengorbankan kualitas,” jelas Eko Wiratno.

Naskah ditulis menggunakan format akademik baku, yakni Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5, dengan ketentuan kemiripan (Turnitin) maksimal 20 persen, guna menjaga integritas akademik.

Benefit Nyata bagi Penulis

Setiap dosen yang terlibat sebagai penulis akan memperoleh berbagai benefit konkret, antara lain:

  • 1 buku cetak ber-ISBN (HVS 100 gram)

  • File PDF lengkap

  • Sertifikat HKI (Hak Kekayaan Intelektual)

  • Sertifikat Penulis

  • Royalti penjualan sebesar 10 persen

  • Distribusi melalui Google Play Book

  • Potensi keterindeksan di Google Scholar

Menurut Eko Wiratno, benefit tersebut dirancang agar buku tidak hanya terbit, tetapi juga memiliki nilai akademik dan kebermanfaatan jangka panjang.

“Buku harus memberi manfaat bagi penulis, mahasiswa, dan pengembangan ilmu. Itu prinsip kami,” ungkap Eko Wiratno.

Biaya Terjangkau dan Dibayar Setelah Cetak

Program ini juga menawarkan skema pembiayaan yang dinilai sangat aman dan transparan. Biaya partisipasi hanya Rp 225.000, dengan ketentuan dibayarkan setelah buku selesai dicetak.

“Kami sengaja menerapkan pembayaran setelah cetak agar dosen merasa aman dan percaya. Tidak ada pembayaran di muka,” tegasnya.

Dengan biaya tersebut, penulis telah memperoleh buku cetak, sertifikat HKI, sertifikat penulis, royalti, serta distribusi digital.

Menjawab Kebutuhan Buku Ajar Peternakan Modern

EWRC Indonesia menilai bahwa kebutuhan buku ajar peternakan yang kontekstual masih sangat besar. Banyak referensi yang digunakan saat ini sudah kurang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan global.

“Peternakan hari ini berbicara tentang smart farming, precision livestock, nutrigenomik, dan keberlanjutan. Buku ajarnya juga harus mengikuti,” ujarnya.

Melalui program ini, dosen diharapkan dapat menuangkan pengalaman lapangan, hasil riset, dan pemikiran kritis ke dalam buku yang aplikatif dan mutakhir.

Kuota Terbatas, Kesempatan Eksklusif

Karena setiap judul hanya terdiri dari 8 bab, maka kuota penulis sangat terbatas. Satu bab hanya dapat diisi oleh satu penulis.

“Kami ingin setiap penulis benar-benar merasa memiliki karya ilmiahnya,” tutup Eko Wiratno yang juga pendiri EWRC Indonesia.

Cara Pendaftaran

Dosen yang berminat mengikuti Program Buku Kolaborasi Peternakan Tahun 2026 bersama EWRC Indonesia dapat menghubungi:

📲 WhatsApp: 081 567 898 354

Program ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat budaya menulis dosen, memperkaya literatur peternakan nasional, serta melahirkan buku-buku berkualitas karya akademisi Indonesia.(**)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply