Jejak Keteladanan H. Sunarto, SE., MM.: Pendidik, Politisi, dan Sahabat Kehidupan oleh Eko Wiratno

Hari ini, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi(STIA) Madani Klaten melepas purnatugas seorang figur yang telah mewarnai perjalanan panjang lembaga ini, H. Sunarto, SE., MM. Beliau bukan sekadar Ketua STIA Madani, bukan sekadar dosen, dan bukan pula sekadar politisi. Lebih dari itu, beliau adalah sosok teladan yang menginspirasi banyak orang, termasuk saya yang beruntung pernah menjadi murid sekaligus kolega beliau.

Saya mengenal beliau pertama kali pada tahun 2008 ketika menjadi mahasiswa jurusan Administrasi Niaga/Bisnis. Dari awal perkuliahan, beliau sudah memberi kesan berbeda: dosen yang sabar, tidak pernah mengeluh, dan selalu memberikan motivasi kepada seluruh mahasiswa. Pelajaran yang beliau sampaikan tidak hanya berupa teori, melainkan juga semangat hidup, kejujuran, serta keberanian untuk menapaki jalan baru, termasuk dalam dunia entrepreneurship. Motivasi-motivasi itu masih saya ingat sampai sekarang, menjadi bekal penting dalam perjalanan hidup saya.

Ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Klaten (2009–2019), kami mahasiswa sering mendapatkan pencerahan tentang politik lokal. Saya sendiri pernah beberapa kali berbincang santai dengan beliau mengenai politik Klaten. Dari situ saya menyimpulkan: beliau adalah politisi yang sangat santun. Tidak pernah ada kata kasar atau merendahkan pihak lain. Beliau mencontohkan bahwa politik bisa dijalani dengan beretika dan penuh pengabdian.

Saat saya mendapat kesempatan menjadi dosen di STIA Madani (2015–2019), hubungan kami semakin erat. Beliau yang kala itu menjabat sebagai Ketua Yayasan pernah memberi saya amanah sebagai Ketua Program Studi. Amanah itu datang terlalu cepat, bahkan belum genap satu tahun saya mengajar. Jujur, saya merasa ragu dan belum siap. Namun, beliau meneguhkan saya dengan kata-kata penuh keyakinan bahwa kepercayaan adalah bentuk ujian kemampuan. Dari beliau, saya belajar arti keberanian menerima tanggung jawab. Amanah itu menjadi salah satu batu loncatan penting dalam perjalanan karier saya hingga saat ini.

Kedekatan saya dengan beliau tidak berhenti di ruang akademik. Ketika saya melepas masa lajang, beliau berkenan hadir jauh-jauh ke Kudus. Kehadiran beliau saat itu bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga bukti ketulusan relasi yang terjalin. Lebih dari itu, saat ayah saya berpulang, beliau pun hadir dan ikut menyalatkan jenazah. Sikap beliau ini membuat saya semakin yakin bahwa beliau bukan hanya seorang dosen atau pemimpin, melainkan juga seorang sahabat kehidupan yang peduli dan hadir di momen-momen penting.

Jika saya diminta menyebut 20 orang yang paling menginspirasi hidup saya, maka tanpa ragu beliau masuk dalam daftar itu. Dari beliau saya belajar kesederhanaan, integritas, kedisiplinan, sekaligus kasih sayang. Dari beliau saya belajar bahwa seorang pendidik sejati tidak hanya meninggalkan ilmu, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan dalam hati setiap orang yang pernah dia sentuh.

Hari ini, saya hanya ingin mengatakan dengan tulus: terima kasih, Bapak H. Sunarto. Terima kasih karena dari didikan Bapak, saya bisa sampai di titik ini. Jika dulu saya tidak belajar di STIA Madani, belum tentu saya sampai sejauh ini. Terima kasih STIA Madani yang telah mempertemukan saya dengan sosok luar biasa ini.

Purnatugas bukanlah akhir, tetapi awal dari pengabdian baru. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan umur panjang untuk Bapak, agar tetap menjadi cahaya bagi siapa pun yang beruntung mengenal Bapak.

EKO WIRATNO

BOYOLALI, 16 AGUSTUS 2025

PUKUL 23.07 WIB

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply