Kasdiman, Pengasong Koran Terakhir di Klaten: Bertahan di Tengah Senyapnya Era Digital

KLATEN(JARINGAN ARWIRA MEDIA GROUP)Pada suatu pagi yang lembab di perempatan Tulung, di jalur ramai Jatinom–Boyolali, seorang lelaki berkulit legam berdiri memegang beberapa eksemplar koran. Di saat ribuan warga Klaten menggulirkan layar ponselnya untuk membaca berita, Kasdiman (52) tetap berdiri yakin, menjajakan surat kabar seperti yang ia lakukan sejak hampir tiga dekade lalu.

Di tengah riuhnya era digital, ketika media cetak satu per satu tumbang dan pengasong koran jalanan hampir punah, sosok Kasdiman menjadi semacam anomali — sebuah bukti kecil bahwa sebagian tradisi tetap berusaha bertahan, meskipun arus zaman terus mendorongnya ke tepi.

Kasdiman memulai profesinya pada 1996, masa ketika koran adalah barang wajib di banyak rumah. Di masa itu, pukul 05.00 pagi adalah waktu paling sibuk bagi para pembaca yang rela menunggu di depan rumah atau warung untuk mendapatkan berita terbaru. Internet belum merata, berita televisi terbatas jam tayang, dan radio tidak memuat detail panjang.

“Dulu itu koran rebutan, Mas. Saya datang bawa 60 eksemplar saja, bisa habis dalam satu jam. Kadang saya bawa 200 koran saat ada berita besar. Semua habis,” kenang Kasdiman sambil tersenyum kecil.

Ia masih ingat lampu-lampu kuning warung yang menyala saat subuh, ketika ia pertama kali mengantarkan koran kepada pelanggan tetap. Kala itu, ia membawa berbagai jenis surat kabar:
Kompas, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, serta tabloid populer seperti Bola, Nova, Otomotif, Nyata, Cempaka, dan Aneka.

“Kalau tabloid ibu-ibu dulu banyak banget peminatnya. Sekarang sudah nggak ada yang dicetak, tinggal beberapa saja,” ujarnya.

Di masa itu, agen koran penuh sesak setiap pagi. Pengasong saling berebut tempat terbaik, saling membantu, dan saling menunggu berita terbaru — karena berita laris, hidup pun terasa bergerak lebih cepat. Semua berjalan dalam irama yang khas dan penuh energi.

Itu semua kini tinggal kenangan.

Era digital datang: satu per satu rekan jatuh

Perubahan paling besar datang perlahan namun pasti. Ketika internet merambah desa-desa sekitar Klaten, kebiasaan membaca perlahan bergeser. Telepon genggam yang dulu hanya untuk telepon dan SMS berubah menjadi alat untuk membaca segala hal.

“Awalnya tidak terasa, Mas. Tapi tahun 2012–2014 itu mulai sepi. Orang tidak lagi menunggu koran. Mereka bilang sudah baca di HP,” ujar Kasdiman.

Rekan-rekan seprofesinya mulai menyerah satu per satu. Dari puluhan pengasong koran di Klaten dan Boyolali, kini hanya tinggal Kasdiman yang bertahan.

“Yang lain sudah pindah semua. Ada yang jadi buruh pabrik, ada yang jadi ojek, ada yang pulang kampung. Banyak yang sudah nggak kuat karena koran makin sedikit pembelinya,” jelasnya.

Ia pernah diajak ikut bekerja serabutan, tetapi ia menolak.

“Saya sudah dari muda di jalan ini, Mas. Rasanya kalau pindah kerja seperti kehilangan jati diri. Saya sudah terlanjur cinta sama koran,” ujarnya pelan.

Hampir setiap hari, Kasdiman setelah subuh menyiapkan motornya yang setia menemaninya selama belasan tahun. Ia berangkat menuju pengepul koran untuk mengambil stok hari itu.

Rutenya sudah hafal luar kepala: kompleks perumahan, deretan kios di tepi sawah, rumah pensiunan PNS, rumah keluarga pedagang, hingga warung langganan. Ia mengantar koran satu per satu, memastikan semuanya tiba sebelum pemilik rumah beraktivitas pagi.

“Kalau telat, pelanggan biasa WA: ‘Mas, korannya mana?’ Itu yang bikin saya semangat. Berarti mereka masih menunggu,” katanya sambil tersenyum bangga.

Setelah selesai mengantar, ia menuju perempatan Tulung. Di titik itulah ia berdiri setiap hari hingga siang.

Wawancara mendalam: kisah yang jarang tersampaikan

Kami mewawancarainya lebih panjang, menggali sisi-sisi yang jarang ia ceritakan kepada orang lain.

Bagaimana perasaan Mas saat teman-teman pengasong lain berhenti?

Kasdiman terdiam beberapa detik.
“Sepi, Mas. Dulu ramai, ada yang ngobrol, bercanda, ngopi bareng. Sekarang sendirian. Tapi ya gimana lagi? Zaman berubah. Saya tetap jalan saja,” katanya akhirnya.

Apa yang paling berat dari pekerjaan ini?

“Capeknya bukan di badan, tapi di pikiran. Kalau penjualan sedikit, saya kadang mikir, apa besok masih bisa bertahan? Tapi ya saya percaya saja, rezeki itu sudah ada jalannya,” jawabnya.

Apa Mas pernah terpikir berhenti?

“Sering. Tapi kalau besok saya nggak jualan, rasanya seperti ada yang hilang. Dari umur 20-an saya sudah di jalan ini. Jalan ini saksi hidup saya. Kalau saya pergi, saya merasa meninggalkan bagian dari diri saya sendiri,” ujarnya lirih.

Apa harapan Mas terhadap dunia koran?

“Saya cuma berharap koran tetap terbit. Biar saya tetap bisa kerja dan orang-orang tidak lupa bahwa membaca itu penting. Di koran, berita itu lebih dalam, tidak cuma judul-judul pendek seperti di HP,” tuturnya.

Ada kerinduan yang jelas dalam suaranya — kerinduan pada masa ketika koran adalah bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat.

Meskipun pembeli acak semakin sedikit, pelanggan tetap Kasdiman justru membuatnya bisa bertahan. Ada yang sudah berlangganan sejak 1990-an hingga kini.

“Ada bapak-bapak pensiunan yang kalau saya datang, dia langsung bilang, ‘Wah, Mas Kasdiman datang. Rumah rasanya sepi kalau koran belum datang.’ Itu bikin saya terharu, Mas,” katanya.

Beberapa pelanggan bahkan sudah menganggapnya seperti saudara. Ada yang memberi sarapan, ada yang memberinya bonus saat lebaran, dan ada pula yang selalu memberi minum setiap Kasdiman mampir.

“Hubungan kami itu sudah keluarga. Makanya saya nggak bisa putus begitu saja,” ujarnya.

Di tengah teriknya jalanan, ada tekad yang tetap menyala

Ketika matahari mulai tinggi dan terik, Kasdiman masih berdiri menawarkan koran. Tidak semua pengendara membeli. Banyak yang hanya melirik, lalu kembali menatap ponsel. Namun Kasdiman tidak pernah menyerah.

Ia masih percaya bahwa suatu hari, ada pengendara yang butuh berita lebih dalam, bukan sekadar garis besar dari media sosial.

“Selama kaki saya masih kuat, saya akan tetap berdiri di sini. Ini hidup saya, Mas,” tuturnya sambil menatap koran yang ia pegang.

Kasdiman bukan tidak sadar bahwa profesinya suatu hari bisa punah. Ia tahu betul bahwa generasi muda tidak lagi membeli koran. Ia tahu jumlah pembaca menurun setiap tahun. Ia juga tahu bahwa beberapa surat kabar nasional mulai mengurangi oplah cetak.

Namun ia tidak mengeluh.

“Setiap zaman ada ceritanya, Mas. Saya bagian dari cerita koran. Kalau nanti selesai, ya berarti sudah waktunya. Tapi saya tidak mau berhenti sebelum waktunya benar-benar tiba,” tegasnya.

Ia percaya bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan hati, akan selalu berarti.

Bagi Kasdiman, pengasong koran bukan hanya pekerjaan. Ini adalah identitas, kebanggaan, sekaligus warisan hidup yang membentuk cara pandangnya.

“Saya bukan orang pintar, Mas. Tapi saya bangga karena saya tahu, setiap hari saya membawa berita. Saya membantu orang tetap terhubung dengan dunia,” katanya.

Di era serba digital, keteguhan seperti ini terasa langka. Ketika banyak orang memilih jalan pintas, Kasdiman memilih bertahan di jalur yang perlahan ditinggalkan penggunanya.

Sosok Kasdiman berdiri sebagai pengingat bahwa perubahan zaman tidak selalu mampu menghapus seluruh tradisi. Ada orang-orang yang tetap menjaga apa yang mereka anggap berharga, meski dunia tak lagi menoleh ke arah mereka.

Kasdiman adalah salah satunya — pengasong koran terakhir di Klaten, penjaga setia lembar-lembar informasi yang pernah menjadi jantung kehidupan bangsa.(**)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply