
SOLO(JARINGAN ARWIRA MEDIA GROUP)- Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Solo bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Solo menggelar Seminar Akhir Tahun bertema “Masa Depan Purbayanomics: Outlook Ekonomi 2026”, Jumat (19/12/2025), di Adhiwangsa Hotel, Solo.
Seminar tersebut menjadi forum strategis untuk membaca arah perekonomian nasional dan daerah menjelang 2026, khususnya di kawasan Solo Raya yang memiliki karakter ekonomi berbasis jasa, UMKM, perdagangan, pendidikan, hingga ekonomi kreatif.
Ketua ISEI Solo Lukman Hakim, Ph.D, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar agenda rutin organisasi. Menurutnya, tahun 2026 akan menjadi fase penting bagi daerah dalam menentukan arah pembangunan ekonomi ke depan.
“Daerah tidak bisa lagi mengandalkan pola pertumbuhan lama. Kita harus berani membaca ulang struktur ekonomi Solo Raya agar lebih siap menghadapi perubahan,” ujar Lukman.
Ia menyebutkan, tantangan ekonomi 2026 tidak terlepas dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian. Dinamika geopolitik dunia, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan kebijakan moneter internasional diperkirakan akan memberi dampak langsung pada perekonomian nasional dan daerah.
Karena itu, Lukman menilai penguatan ketahanan ekonomi internal menjadi langkah yang tidak bisa ditawar. Upaya tersebut antara lain menjaga daya beli masyarakat, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Daerah yang memiliki fondasi ekonomi kuat dan beragam akan lebih tahan terhadap tekanan global dibanding daerah yang bergantung pada satu sektor saja,” katanya.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang strategis. Di antaranya Dwiyanto Cahyo Sumirat, SE, MIDEC selaku Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Prof. Bhimo Rizky Samudro, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret, serta Dwidadi Sugito, S.Ak, M.M selaku Staf Khusus Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Diskusi dipandu Budi Wahyono, Ph.D, Sekretaris MES.
Lukman menegaskan bahwa forum ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kami ingin hasil diskusi tidak berhenti di ruang seminar. Harapannya, ini bisa menjadi referensi kebijakan yang aplikatif dan sesuai kebutuhan daerah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Menurutnya, tidak ada satu pihak pun yang mampu bekerja sendiri.
“ISEI berupaya menjadi jembatan antara dunia akademik dan pengambil kebijakan. Kolaborasi dan penggunaan data yang kuat menjadi kunci agar kebijakan ekonomi tepat sasaran,” kata Lukman.
Selain membahas tantangan makro, seminar ini juga menyoroti penguatan ekonomi berbasis lokal. Solo Raya dinilai memiliki modal sosial dan kewirausahaan yang kuat, namun masih perlu dikelola dalam kerangka kebijakan ekonomi regional yang terintegrasi. Melalui pendekatan Purbayanomics, para peserta mendorong pembangunan ekonomi yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga pemerataan dan keberlanjutan.
Meski tantangan ekonomi ke depan cukup berat, Lukman tetap optimistis. Namun, optimisme tersebut harus dibarengi dengan perhitungan yang matang.
“Optimisme itu penting, tapi harus realistis. Dengan analisis yang tepat, Solo Raya punya peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan berkeadilan,” pungkasnya. (**)
Related Posts

Cara Mudah Dosen & Mahasiswa Indonesia Publikasi di Jaringan Media Online Nasional

Bimbingan Tesis Hukum Tanpa Drama, Ariya Konsultan Jawabannya

70 Hari Menuju Idulfitri, 40 Hari Menuju Ramadhan: Jalan Panjang Menuju Kemenangan Sejati

Ketika YouTube Lebih Ramai oleh Sensasi daripada Kebenaran — Eko Wiratno, Analis EWRC Indonesia

Eko Wiratno (EWRC Indonesia): SPMI Kuat adalah Fondasi Mutlak Menuju SPME Unggul



No Responses