
Yogyakarta (JARINGAN ARWIRA MEDIA GROUP)— Jumat (23/1)menjadi hari yang menarik bagi pelaku pasar logam mulia. Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kembali mencatat kenaikan signifikan. Harga jual emas batangan naik Rp 90.000 per gram, dari Rp 2.790.000 per gram menjadi Rp 2.880.000 per gram. Sementara itu, harga buyback — yaitu harga yang ditetapkan ketika investor menjual kembali emasnya ke gerai Logam Mulia — juga naik Rp 80.000 per gram, dari Rp 2.635.000 menjadi Rp 2.715.000 per gram. Hal ini membuat selisih spread antara harga jual dan buyback mencapai Rp 165.000 per gram.
Kenaikan harga ini bukan terjadi dalam kehampaan. Pasar emas pada perdagangan dunia terus bergerak kuat di kisaran tertinggi sepanjang masa, dengan harga emas spot dunia mendekati $4.900–$5.000 per ounce dalam beberapa pekan terakhir. Data real-time bahkan menunjukkan spot emas mencapai sekitar $4.971,53 per ounce pada 23 Januari 2026, setara dengan lebih dari Rp 83 juta per ounce atau sekitar Rp 2,68 juta per gram jika dikonversi.
Memahami Dua Harga Emas Antam
ANTM menetapkan dua macam harga emas batangan:
-
Harga jual — harga saat investor membeli emas fisik dari gerai Logam Mulia.
-
Harga buyback — harga yang akan didapat jika investor menjual emas kembali ke gerai Logam Mulia.
Selisih keduanya disebut spread, dan merupakan biaya implicit investasi emas fisik. Spread yang cukup tebal ini menjadi faktor penting dalam menghitung potensi keuntungan atau kerugian investasi emas, terutama bila dilakukan dalam jangka pendek.
Artinya, bila seseorang membeli emas pagi ini seharga Rp 2.880.000 per gram kemudian menjualnya pada siang atau sore hari, investor bisa kehilangan selisih spread tersebut dan berpotensi rugi. Itulah sebabnya emas sering direkomendasikan sebagai investasi jangka panjang — bukan instrumen spekulatif harian.
Investor Emas: Kapan “Cuan” Terjadi?
Sebagai ilustrasi, berikut potensi keuntungan bagi investor yang membeli emas batangan pada beberapa tanggal sebelumnya jika dijual pada harga saat ini:
-
Membeli 16 Januari 2026 (Rp 2.669.000/gr) → ±1,72% keuntungan
-
23 Desember 2025 (Rp 2.561.000/gr) → ±6,01%
-
23 Oktober 2025 (Rp 2.321.000/gr) → ±16,98%
-
23 Juli 2025 (Rp 1.970.000/gr) → ±37,82%
-
23 Januari 2025 (Rp 1.607.000/gr) → ±68,97%
-
23 Juli 2024 (Rp 1.404.000/gr) → ±93,38%
-
23 April 2024 (Rp 1.325.000/gr) → ±104,91%
Ini menjadi bukti bahwa dalam kerangka sejarah jangka panjang, harga emas cenderung meningkat. Analis dari EWRC Indonesia menyatakan bahwa bila seorang investor memiliki 1.000 gram emas batangan Antam sejak awal tahun lalu, maka potensi keuntungan dalam satu tahun terakhir mencapai sekitar 68,97%, atau berupa cuan bersih ±Rp 1.067.379.720 per 1.000 gram. Secara rata-rata, potensi keuntungan ini ekuivalen dengan ±Rp 88.948.310 per bulan, atau sekitar Rp 2.924.328 per hari. Angka ini tentu belum menghitung biaya spread dan pajak, namun tetap menunjukkan kekuatan return emas jangka panjang.
Teori Ekonomi: Mengapa Emas Cenderung Naik?
Dalam teori ekonomi, emas dipandang sebagai aset safe haven — tempat berlindung nilai terutama saat pasar keuangan dan perekonomian global menghadapi ketidakpastian. Saat terjadi volatilitas pasar saham, krisis geopolitik, atau ekspektasi suku bunga rendah, permintaan terhadap emas cenderung naik. Emas bukan sekadar komoditas, tetapi juga alat lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang.
Dalam Journal of Innovative and Creativity disebutkan bahwa emas sering dipilih sebagai instrumen investasi karena dianggap lebih aman dan mudah dicairkan dibandingkan instrumen lain seperti saham, obligasi, atau deposito. Emas tidak memiliki risiko gagal bayar dan secara historis mempertahankan daya belinya dalam jangka panjang.
Selain itu, penelitian dalam Jurnal Manajemen dan Bisnis menegaskan bahwa harga emas juga dipengaruhi oleh faktor-faktor makro seperti inflasi, nilai tukar dollar AS, dan suku bunga. Studi empiris menunjukkan bahwa inflasi cenderung mendorong harga emas naik karena investor mencari aset yang tidak tergerus inflasi. Sementara itu, suku bunga yang rendah menyebabkan imbal hasil instrumen keuangan berpendapatan tetap juga rendah, sehingga emas menjadi pilihan yang relatif menarik.
Emas Dunia Naik Karena Risiko Geopolitik & Kebijakan Moneter
Faktor global juga memperkuat kenaikan emas saat ini. Harga emas dunia terus mencetak rekor baru, didorong oleh ketidakpastian geopolitik, pelemahan dolar AS, dan ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga The Fed. Laporan Reuters menunjukkan emas mencapai rekor hampir $4.966,59 per ounce, dengan sentimen pasar yang melemahkan kepercayaan pada aset berdenominasi dolar.
Sementara MarketWatch melaporkan bahwa emas mendekati $5.000 per ounce karena risiko global yang terus ada, membuat investor berlomba mencari safe haven.
Selain itu, beberapa lembaga investasi global seperti Goldman Sachs bahkan menaikkan proyeksi harga emas hingga $5.400 per ounce pada akhir 2026, didorong oleh permintaan dari sektor swasta dan diversifikasi cadangan oleh bank sentral.
Investor Emas: Strategi yang Tepat
Apa makna semua ini bagi calon investor emas? Ada beberapa strategi yang perlu dipahami:
-
Jangka Panjang Lebih Menjanjikan
Karena spread antara harga jual dan buyback cukup signifikan, investasi emas sebaiknya dipandang sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar spekulasi jangka pendek. -
Lindung Nilai terhadap Risiko Makro
Emas umumnya naik saat inflasi tinggi, suku bunga turun, atau geopolitik tidak stabil — semua ini membuat emas menjadi pelindung aset dari risiko makro. -
Diversifikasi Portofolio
Emas sering direkomendasikan sebagai bagian dari diversified portfolio, misalnya 5–10% dari total aset, untuk menurunkan risiko keseluruhan. -
Pertimbangkan Spread & Biaya
Investor perlu memperhitungkan spread jual-beli dan biaya lain seperti pajak atau biaya penyimpanan bila memiliki emas fisik.
Kesimpulan
Kenaikan harga emas batangan Antam pada 23 Januari 2026 menunjukkan bahwa permintaan terhadap logam mulia masih kuat. Spread antara harga beli dan buyback menegaskan pentingnya perspektif investasi jangka panjang. Secara global, emas bergerak dekat rekor tertinggi karena faktor geopolitik, pelemahan dolar AS, dan kebijakan moneter yang mendukung safe haven asset seperti emas. Investor yang serius hendaknya memahami kedua harga emas ini serta teori ekonomi di balik pergerakan harga, agar bisa menilai risiko dan potensi return secara realistis.
Related Posts

Dr Septiana Juwita: S3 Bukan Sekadar Gelar, Tapi Jalan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat

KULTUM TARAWIH HARI KE-10 Ramadhan dan Penguatan Etos Kerja Islami Oleh Eko Wiratno :Warga Muhammadiyah Tinggal di Klaten

Mushola Al Ikhlas Griya Bumi Boyolali Sambut Ramadhan 1447 H dengan Semangat Religius dan Berkemajuan

KAHMI Boyolali Holds One-Year Leadership Reflection, Highlights Development Direction and Governance

Workshop Manajemen Jurnal Ilmiah Digelar di UGJ, Perkuat Tata Kelola dan Kualitas Editorial

No Responses