60% Hoaks di Media Sosial: Alarm Bahaya Literasi Digital

Di era digital saat ini, media sosial menjadi ruang utama masyarakat memperoleh informasi. Namun di balik kemudahan tersebut, terselip ancaman serius berupa hoaks. Berdasarkan data, sekitar 60% informasi di Facebook terindikasi hoaks. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan bagi kita semua agar lebih waspada dan bijak dalam bermedia sosial.

Hoaks bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memecah persatuan, memicu konflik, dan merusak kepercayaan publik. Banyak orang terjebak karena judul sensasional, narasi provokatif, atau gambar yang dimanipulasi. Tanpa berpikir panjang, informasi tersebut langsung dibagikan. Padahal, satu klik share bisa berdampak besar bagi banyak orang.

Karena itu, penting bagi kita untuk selalu cek dulu sebelum sebar. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi, data yang valid, serta disajikan secara berimbang. Jangan mudah percaya pada kabar yang memancing emosi, apalagi yang menyudutkan pihak tertentu tanpa bukti jelas. Sikap kritis adalah benteng utama melawan hoaks.

Pesan sederhana “Stop Hoax!” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan moral untuk bertanggung jawab. Jempol kita adalah cerminan karakter kita. Gunakan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan alat penyebar kebohongan. Jika ragu, lebih baik diam daripada menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Mari bersama membangun ruang digital yang sehat, edukatif, dan penuh empati. Jadilah pengguna media sosial yang cerdas, santun, dan beretika. Dengan begitu, kita turut berkontribusi menciptakan masyarakat yang lebih damai dan beradab.

Ingat, setiap informasi yang kita sebarkan adalah amanah. Saring sebelum sharing, pikirkan dampaknya, dan jadilah bagian dari solusi, bukan masalah. Karena melawan hoaks bukan tugas satu orang, tetapi tanggung jawab kita semua.(**)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply